Tulisku ini tiada niat
Tulisku ini tiada istimewa
Tulisku ini tiada paksi
Mengerti?
Tulisanku ekspresi rasa yang aku dindingkan
Yang dalamnya satu kepompong
Dahulunya dibuai buaian dunia
Akibatnya dulu ia lena; tiada berubah menjadi rama - rama...
Kepompong sampai mati!
Bila bangun tersedar ia beluncas lagi,
Sedih, sedih.
Tapi kini tulisku bangun
Terkejut dek matang dunia bila buaian menghentak dinding
Dan sakitnya hentakan aku terasa
Bisanya mengubah
corak langkah
hayun tangan
pejam mata
gerak bibir
tutur kata
susun sindir.
Aku dewasa. Rama - rama.
11.42 pagi, 9 Julai 2011
Shah Alam.
*tatkala huru hara menghuni tanah air, aku terlampau sibuk mencari diri. penting diri, mungkin. ah persetankan.
Friday, July 8, 2011
Sunday, July 3, 2011
Bebaskan Aku
BEBASKAN AKU oleh FITERI SALIM
Terbang sayup kepak mengepak
Ku dengar jauh bebas ku jatuh
Untung Si Burung senjatakan bebas
Sial manusia bebas dikebas...
Apa malang?
Renung dek mata; telinga tercela
Dilihatnya kata didengarnya dusta
Bila Tak Tahu lemparkan tahi
tertutup kalimah suci didahi
dan kita tersenyum?
Berikan aku bebas dari ku
Berikan aku bebas dari ku
Sucikan aku
Hilangkan kotor
Jangan Benci
Jangan.
Aku cuma biasa.
6.15pm, 3 Julai 2011
Shah Alam.
Terbang sayup kepak mengepak
Ku dengar jauh bebas ku jatuh
Untung Si Burung senjatakan bebas
Sial manusia bebas dikebas...
Apa malang?
Renung dek mata; telinga tercela
Dilihatnya kata didengarnya dusta
Bila Tak Tahu lemparkan tahi
tertutup kalimah suci didahi
dan kita tersenyum?
Berikan aku bebas dari ku
Berikan aku bebas dari ku
Sucikan aku
Hilangkan kotor
Jangan Benci
Jangan.
Aku cuma biasa.
6.15pm, 3 Julai 2011
Shah Alam.
Friday, June 24, 2011
Morning
MORNING by FITERI SALIM
What is the difference?
Between hot and cold
Can one even describe?
As if it's a tale to be told
For the breeze brings sober
And tranquility one remember
Of past mistakes which linger
He brings to the future.
What should be given?
If nothing more is left
Anger and fury subside
And it's regret overnight
Shall we judge a judgement?
By another misleading torment
Or shall we leave and be free
Watching leaves fall from big trees
In this cold morning glee.
8.33am, 25 June 2011
Shah Alam.
What is the difference?
Between hot and cold
Can one even describe?
As if it's a tale to be told
For the breeze brings sober
And tranquility one remember
Of past mistakes which linger
He brings to the future.
What should be given?
If nothing more is left
Anger and fury subside
And it's regret overnight
Shall we judge a judgement?
By another misleading torment
Or shall we leave and be free
Watching leaves fall from big trees
In this cold morning glee.
8.33am, 25 June 2011
Shah Alam.
Wednesday, May 18, 2011
Gagal Dan Pulang
GAGAL DAN PULANG oleh FITERI SALIM
Gagal,
Sayang bertimbun tidak ku sangkal,
Ku telan muntah; tiada mual,
Kujilat ludah; gembira tertampal,
Jiwa yang resah; memori itu ku bual.
Dan aku kembali senyum.
Namun pari-pari hanya ilusi,
Namun manusia terbang hanya mimpi,
Namun pandang pertama hanya dongengan,
Namun sekuntum sajak hanya rekaan,
Aku tetap berteguh.
Sampai masa; suatu simpang,
Kanan dan kiri kulihat jurang,
Tak sanggup jatuh dan bergelumang,
Lalu ku patah ke jalan pulang.
Jalan pulang?
Mana jalan pulang.
Shah Alam, 19 Mei 2011.
Gagal,
Sayang bertimbun tidak ku sangkal,
Ku telan muntah; tiada mual,
Kujilat ludah; gembira tertampal,
Jiwa yang resah; memori itu ku bual.
Dan aku kembali senyum.
Namun pari-pari hanya ilusi,
Namun manusia terbang hanya mimpi,
Namun pandang pertama hanya dongengan,
Namun sekuntum sajak hanya rekaan,
Aku tetap berteguh.
Sampai masa; suatu simpang,
Kanan dan kiri kulihat jurang,
Tak sanggup jatuh dan bergelumang,
Lalu ku patah ke jalan pulang.
Jalan pulang?
Mana jalan pulang.
Shah Alam, 19 Mei 2011.
Wednesday, May 11, 2011
Suatu Layu
SUATU LAYU oleh FITERI SALIM
Suatu Layu dibuai laju,
Hiris angin kulihat ngilu,
Jiwa Sedih kutepis; debu,
Kucanang sayang tiada talu.
Serindit terbang aku tersengih,
Kulihat comel sayang kutagih,
Biar luruh sayangku ini,
Rela diri dariku mati.
Gurindam runtun aku sembunyi,
Cermin jatuh pecah tak bunyi,
Kupijak cebis, darah sendiri.
Jerit tak bunyi, darah pun henti.
Suatu Layu dibuai laju,
Hiris angin kulihat ngilu,
Jiwa Sedih kutepis; debu,
Kucanang sayang tiada talu.
Serindit terbang aku tersengih,
Kulihat comel sayang kutagih,
Biar luruh sayangku ini,
Rela diri dariku mati.
Gurindam runtun aku sembunyi,
Cermin jatuh pecah tak bunyi,
Kupijak cebis, darah sendiri.
Jerit tak bunyi, darah pun henti.
Thursday, April 28, 2011
Perihal Si Leka
PERIHAL SI LEKA oleh FITERI SALIM
Wajah.
Senyum mu manis nya tahu gundah
Tawa mu sedih biarpun indah
Bibirmu tutur didengar nya madah.
Salah.
Dia yang salah
Dibiar nya gapai penuh lelah
Akhir kau jatuh tidak nya endah
Leka terleka hatimu punah.
Tahu.
Tolong tahu
Dia pun rasa kau rasa di kalbu
Dia pun jerit teriak si pilu
Dia pun biasa seperti kau aku.
Dia yang pergi sesuka hati
Ditinggal nya hati separuh mati
Dijajanya jiwa; kejam sekali
kejam sekali, dia pun pergi.
Wajah.
Senyum mu manis nya tahu gundah
Tawa mu sedih biarpun indah
Bibirmu tutur didengar nya madah.
Salah.
Dia yang salah
Dibiar nya gapai penuh lelah
Akhir kau jatuh tidak nya endah
Leka terleka hatimu punah.
Tahu.
Tolong tahu
Dia pun rasa kau rasa di kalbu
Dia pun jerit teriak si pilu
Dia pun biasa seperti kau aku.
Dia yang pergi sesuka hati
Ditinggal nya hati separuh mati
Dijajanya jiwa; kejam sekali
kejam sekali, dia pun pergi.
Thursday, April 7, 2011
Cerita Pungguk Hodoh Melihat Bulan
CERITA PUNGGUK HODOH MELIHAT BULAN oleh FITERI SALIM
Puisi apakah gerangannya ini?
Untuk si bulan rindu dibendung,
Terbang kosong di malam nan sunyi,
Mencari sebalik awan yang mendung.
Terbang Si Pungguk, ketawa Si Bulan,
Si Pungguk pun fikir;
Mungkinkah khayalan?
Hinggap di dahan, rindu nya ditahan,
Senyap dan sunyi; hanya cubaan.
Apalah sangat sejuk ke tulang?
Jika tanpamu;
disitu nya usang,
Apalah sangat Siang yang terang?
Jika tanpamu;
Hati tak tenang.
Pungguk hodoh pun tetap tertenggek,
Siul dilafaz didengarnya rengek,
Berlagu gurindam;
hati nya robek,
Irama sedih dikata nya asyik.
Peduli tidak Si Pungguk hodoh,
Jika tertidur; mungkin kan jatuh.
Peduli tidak kaki yang lenguh,
Asalkan pesanan tiada tertangguh.
Pungguk, pungguk,
Si Pungguk yang hodoh.
Tetap melihat bulan yang jauh.
Puisi apakah gerangannya ini?
Untuk si bulan rindu dibendung,
Terbang kosong di malam nan sunyi,
Mencari sebalik awan yang mendung.
Terbang Si Pungguk, ketawa Si Bulan,
Si Pungguk pun fikir;
Mungkinkah khayalan?
Hinggap di dahan, rindu nya ditahan,
Senyap dan sunyi; hanya cubaan.
Apalah sangat sejuk ke tulang?
Jika tanpamu;
disitu nya usang,
Apalah sangat Siang yang terang?
Jika tanpamu;
Hati tak tenang.
Pungguk hodoh pun tetap tertenggek,
Siul dilafaz didengarnya rengek,
Berlagu gurindam;
hati nya robek,
Irama sedih dikata nya asyik.
Peduli tidak Si Pungguk hodoh,
Jika tertidur; mungkin kan jatuh.
Peduli tidak kaki yang lenguh,
Asalkan pesanan tiada tertangguh.
Pungguk, pungguk,
Si Pungguk yang hodoh.
Tetap melihat bulan yang jauh.
Subscribe to:
Posts (Atom)