MORNING by FITERI SALIM
What is the difference?
Between hot and cold
Can one even describe?
As if it's a tale to be told
For the breeze brings sober
And tranquility one remember
Of past mistakes which linger
He brings to the future.
What should be given?
If nothing more is left
Anger and fury subside
And it's regret overnight
Shall we judge a judgement?
By another misleading torment
Or shall we leave and be free
Watching leaves fall from big trees
In this cold morning glee.
8.33am, 25 June 2011
Shah Alam.
Friday, June 24, 2011
Wednesday, May 18, 2011
Gagal Dan Pulang
GAGAL DAN PULANG oleh FITERI SALIM
Gagal,
Sayang bertimbun tidak ku sangkal,
Ku telan muntah; tiada mual,
Kujilat ludah; gembira tertampal,
Jiwa yang resah; memori itu ku bual.
Dan aku kembali senyum.
Namun pari-pari hanya ilusi,
Namun manusia terbang hanya mimpi,
Namun pandang pertama hanya dongengan,
Namun sekuntum sajak hanya rekaan,
Aku tetap berteguh.
Sampai masa; suatu simpang,
Kanan dan kiri kulihat jurang,
Tak sanggup jatuh dan bergelumang,
Lalu ku patah ke jalan pulang.
Jalan pulang?
Mana jalan pulang.
Shah Alam, 19 Mei 2011.
Gagal,
Sayang bertimbun tidak ku sangkal,
Ku telan muntah; tiada mual,
Kujilat ludah; gembira tertampal,
Jiwa yang resah; memori itu ku bual.
Dan aku kembali senyum.
Namun pari-pari hanya ilusi,
Namun manusia terbang hanya mimpi,
Namun pandang pertama hanya dongengan,
Namun sekuntum sajak hanya rekaan,
Aku tetap berteguh.
Sampai masa; suatu simpang,
Kanan dan kiri kulihat jurang,
Tak sanggup jatuh dan bergelumang,
Lalu ku patah ke jalan pulang.
Jalan pulang?
Mana jalan pulang.
Shah Alam, 19 Mei 2011.
Wednesday, May 11, 2011
Suatu Layu
SUATU LAYU oleh FITERI SALIM
Suatu Layu dibuai laju,
Hiris angin kulihat ngilu,
Jiwa Sedih kutepis; debu,
Kucanang sayang tiada talu.
Serindit terbang aku tersengih,
Kulihat comel sayang kutagih,
Biar luruh sayangku ini,
Rela diri dariku mati.
Gurindam runtun aku sembunyi,
Cermin jatuh pecah tak bunyi,
Kupijak cebis, darah sendiri.
Jerit tak bunyi, darah pun henti.
Suatu Layu dibuai laju,
Hiris angin kulihat ngilu,
Jiwa Sedih kutepis; debu,
Kucanang sayang tiada talu.
Serindit terbang aku tersengih,
Kulihat comel sayang kutagih,
Biar luruh sayangku ini,
Rela diri dariku mati.
Gurindam runtun aku sembunyi,
Cermin jatuh pecah tak bunyi,
Kupijak cebis, darah sendiri.
Jerit tak bunyi, darah pun henti.
Thursday, April 28, 2011
Perihal Si Leka
PERIHAL SI LEKA oleh FITERI SALIM
Wajah.
Senyum mu manis nya tahu gundah
Tawa mu sedih biarpun indah
Bibirmu tutur didengar nya madah.
Salah.
Dia yang salah
Dibiar nya gapai penuh lelah
Akhir kau jatuh tidak nya endah
Leka terleka hatimu punah.
Tahu.
Tolong tahu
Dia pun rasa kau rasa di kalbu
Dia pun jerit teriak si pilu
Dia pun biasa seperti kau aku.
Dia yang pergi sesuka hati
Ditinggal nya hati separuh mati
Dijajanya jiwa; kejam sekali
kejam sekali, dia pun pergi.
Wajah.
Senyum mu manis nya tahu gundah
Tawa mu sedih biarpun indah
Bibirmu tutur didengar nya madah.
Salah.
Dia yang salah
Dibiar nya gapai penuh lelah
Akhir kau jatuh tidak nya endah
Leka terleka hatimu punah.
Tahu.
Tolong tahu
Dia pun rasa kau rasa di kalbu
Dia pun jerit teriak si pilu
Dia pun biasa seperti kau aku.
Dia yang pergi sesuka hati
Ditinggal nya hati separuh mati
Dijajanya jiwa; kejam sekali
kejam sekali, dia pun pergi.
Thursday, April 7, 2011
Cerita Pungguk Hodoh Melihat Bulan
CERITA PUNGGUK HODOH MELIHAT BULAN oleh FITERI SALIM
Puisi apakah gerangannya ini?
Untuk si bulan rindu dibendung,
Terbang kosong di malam nan sunyi,
Mencari sebalik awan yang mendung.
Terbang Si Pungguk, ketawa Si Bulan,
Si Pungguk pun fikir;
Mungkinkah khayalan?
Hinggap di dahan, rindu nya ditahan,
Senyap dan sunyi; hanya cubaan.
Apalah sangat sejuk ke tulang?
Jika tanpamu;
disitu nya usang,
Apalah sangat Siang yang terang?
Jika tanpamu;
Hati tak tenang.
Pungguk hodoh pun tetap tertenggek,
Siul dilafaz didengarnya rengek,
Berlagu gurindam;
hati nya robek,
Irama sedih dikata nya asyik.
Peduli tidak Si Pungguk hodoh,
Jika tertidur; mungkin kan jatuh.
Peduli tidak kaki yang lenguh,
Asalkan pesanan tiada tertangguh.
Pungguk, pungguk,
Si Pungguk yang hodoh.
Tetap melihat bulan yang jauh.
Puisi apakah gerangannya ini?
Untuk si bulan rindu dibendung,
Terbang kosong di malam nan sunyi,
Mencari sebalik awan yang mendung.
Terbang Si Pungguk, ketawa Si Bulan,
Si Pungguk pun fikir;
Mungkinkah khayalan?
Hinggap di dahan, rindu nya ditahan,
Senyap dan sunyi; hanya cubaan.
Apalah sangat sejuk ke tulang?
Jika tanpamu;
disitu nya usang,
Apalah sangat Siang yang terang?
Jika tanpamu;
Hati tak tenang.
Pungguk hodoh pun tetap tertenggek,
Siul dilafaz didengarnya rengek,
Berlagu gurindam;
hati nya robek,
Irama sedih dikata nya asyik.
Peduli tidak Si Pungguk hodoh,
Jika tertidur; mungkin kan jatuh.
Peduli tidak kaki yang lenguh,
Asalkan pesanan tiada tertangguh.
Pungguk, pungguk,
Si Pungguk yang hodoh.
Tetap melihat bulan yang jauh.
Monday, March 28, 2011
Nota Buat Arwah
NOTA BUAT ARWAH oleh Fiteri Salim
Dansa ku kaku; sekaku beku,
Bagai keranda lalu; jiwaku sayu,
Namun senyum kulirik, melodi sayang kupetik ,
Bila kutemu tiap amal baikmu.
Hadiah baik syurga abadi;
Dengan izinNya, kau akan semadi,
Segenap hati; aku punya pasti,
Ke situlah tiap ibadah kau tersemi.
Ku kenang ku gamit ku peluk cium,
Setiap saat kulupa belum,
Ibarat dahaga yang perlu minum,
Ibarat mawar, budi kau kuntum.
Maafkan aku; seketika lalai,
Hinggakan kau pergi, tidak kulambai,
Maafkan aku kawan, sesalku tak sudah,
Terlalu hidup, hingga kau tak ku endah.
Ya tuhan, aku hamba yang lupa,
Akan Kau dan mereka yang patut kucinta.
Dansa ku kaku; sekaku beku,
Bagai keranda lalu; jiwaku sayu,
Namun senyum kulirik, melodi sayang kupetik ,
Bila kutemu tiap amal baikmu.
Hadiah baik syurga abadi;
Dengan izinNya, kau akan semadi,
Segenap hati; aku punya pasti,
Ke situlah tiap ibadah kau tersemi.
Ku kenang ku gamit ku peluk cium,
Setiap saat kulupa belum,
Ibarat dahaga yang perlu minum,
Ibarat mawar, budi kau kuntum.
Maafkan aku; seketika lalai,
Hinggakan kau pergi, tidak kulambai,
Maafkan aku kawan, sesalku tak sudah,
Terlalu hidup, hingga kau tak ku endah.
Ya tuhan, aku hamba yang lupa,
Akan Kau dan mereka yang patut kucinta.
Sunday, March 27, 2011
The Tale of A Fucked Up Tale
THE TALE OF A FUCKED UP TALE by Fiteri Salim
Love, they said; and let you be loved,
You'll walk better, against all curves,
But what about those with hearts of no one,
Loving actual life, from moon to the sun.
Kill all joys that colour your wall,
Kill them all, and let all 'em fall,
For this is the tale of one fucked up tale,
Who surrendered his life and put it on sale.
What is love for, if alone you are lonely?
What is love for, if its for everyone to see?
What is love for, if your real life's empty,
Love is a lot more, than about you and me.
A tale is not what we are made of,
Where false hopes and lies are nothing more than laughs,
Love is when you know; that one of your half,
Is yelling to the other, saying "it's not enough".
Let me be, I beg; on my knees,
Let me be, let it be ceased.
Love, they said; and let you be loved,
You'll walk better, against all curves,
But what about those with hearts of no one,
Loving actual life, from moon to the sun.
Kill all joys that colour your wall,
Kill them all, and let all 'em fall,
For this is the tale of one fucked up tale,
Who surrendered his life and put it on sale.
What is love for, if alone you are lonely?
What is love for, if its for everyone to see?
What is love for, if your real life's empty,
Love is a lot more, than about you and me.
A tale is not what we are made of,
Where false hopes and lies are nothing more than laughs,
Love is when you know; that one of your half,
Is yelling to the other, saying "it's not enough".
Let me be, I beg; on my knees,
Let me be, let it be ceased.
Subscribe to:
Comments (Atom)